Mengatasi Rasa Khawatir atau Kekuatiran dalam Kekristenan
Bacaan : Matius 6:25-34
Filipi 4:6
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur"
Mazmur 62:2
"Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku"
Di dalam kehidupan sehari-hari sudah jelas banyak hal yang tidak pasti yang akan terjadi. Dengan ketidakpastian tersebut, tidak sedikit orang yang khawatir akan masa depannya. Banyak pilihan yang harus diambil hari demi hari dimana pilihan tersebut akan menentukan masa depan seseorang. Misalnya saja ketika kita ingin membeli smartphone, kita harus memilih satu dari sekian banyak smartphone dengan merk yang bervariasi dan range harga yang berbeda juga.
Jika memiliki banyak uang tentu saja akan semakin bingung karena pilihan menjadi semakin banyak, berbeda ketika uang yang ada terbatas sehingga pilihan pun menjadi lebih sedikit dan tingkat kebingungan berkurang. Disini karakter seseorang diuji dalam mengambil keputusan berdasarkan cara berpikirnya. Jika ia ingin dikagumi banyak orang mungkin saja ia akan membeli smartphone yang mahal, namun jika ia membeli berdasarkan kebutuhan , bisa saja smartphone yang dibeli tidak mahal. Atau mungkin saja kita membeli smartphone karena menyukai modelnya yang indah atau enak dilihat (good looking).
Dari memilih smartphone saja sudah berbagai macam pertimbangan yang harus diambil, belum lagi ketika harus menentukan hal-hal lain yang sangat menentukan kelanjutan kehidupan kita seperti pekerjaan atau pasangan hidup. Kekhawatiran dan ketakutan salah memilih menjadi hal yang sudah banyak dirasakan oleh manusia.
Sebagai orang Kristen tidak seharusnya kita menjadi sama dengan dunia ini karena kita punya Tuhan yang selalu menyertai kita. Untuk mendapatkan ketenangan tersebut, kita perlu berdoa dan membaca firman Tuhan agar dekat dengan-Nya (Mazmur 62:2). Yesus pun memerintahkan agar kita tidak khawatir karena kekhawatiran itu tidak ada gunanya (Matius 6:25-34).
Tidak khawatir bukan berarti tidak merencanakan atau memikirkan masa depan. Kita tetap perlu memikirkan masa depan dan merencanakannya dengan matang, namun segala sesuatunya kita serahkan kepada Tuhan Allah yang Mahakuasa sehingga saat ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana kita, maka kita tidak kecewa dan bisa tetap bersyukur.
Renungan : Sudahkah aku menyerahkan kekhawatiranku kepada Tuhan?
Filipi 4:6
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur"
Mazmur 62:2
"Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku"
Di dalam kehidupan sehari-hari sudah jelas banyak hal yang tidak pasti yang akan terjadi. Dengan ketidakpastian tersebut, tidak sedikit orang yang khawatir akan masa depannya. Banyak pilihan yang harus diambil hari demi hari dimana pilihan tersebut akan menentukan masa depan seseorang. Misalnya saja ketika kita ingin membeli smartphone, kita harus memilih satu dari sekian banyak smartphone dengan merk yang bervariasi dan range harga yang berbeda juga.
Jika memiliki banyak uang tentu saja akan semakin bingung karena pilihan menjadi semakin banyak, berbeda ketika uang yang ada terbatas sehingga pilihan pun menjadi lebih sedikit dan tingkat kebingungan berkurang. Disini karakter seseorang diuji dalam mengambil keputusan berdasarkan cara berpikirnya. Jika ia ingin dikagumi banyak orang mungkin saja ia akan membeli smartphone yang mahal, namun jika ia membeli berdasarkan kebutuhan , bisa saja smartphone yang dibeli tidak mahal. Atau mungkin saja kita membeli smartphone karena menyukai modelnya yang indah atau enak dilihat (good looking).
Dari memilih smartphone saja sudah berbagai macam pertimbangan yang harus diambil, belum lagi ketika harus menentukan hal-hal lain yang sangat menentukan kelanjutan kehidupan kita seperti pekerjaan atau pasangan hidup. Kekhawatiran dan ketakutan salah memilih menjadi hal yang sudah banyak dirasakan oleh manusia.
Sebagai orang Kristen tidak seharusnya kita menjadi sama dengan dunia ini karena kita punya Tuhan yang selalu menyertai kita. Untuk mendapatkan ketenangan tersebut, kita perlu berdoa dan membaca firman Tuhan agar dekat dengan-Nya (Mazmur 62:2). Yesus pun memerintahkan agar kita tidak khawatir karena kekhawatiran itu tidak ada gunanya (Matius 6:25-34).
Tidak khawatir bukan berarti tidak merencanakan atau memikirkan masa depan. Kita tetap perlu memikirkan masa depan dan merencanakannya dengan matang, namun segala sesuatunya kita serahkan kepada Tuhan Allah yang Mahakuasa sehingga saat ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana kita, maka kita tidak kecewa dan bisa tetap bersyukur.
Renungan : Sudahkah aku menyerahkan kekhawatiranku kepada Tuhan?
Comments
Post a Comment